Obstinate audience theory

Teori khalayak kepala batu

      kritik terhadap teori peluru dan tidak percaya bahwa khalayak pasif dan dungu tak mampu melawan keperkasaan media. Khalayak itu sendiri atas individu –individu yang selalu berinterelasi dan berinteraksi dengan individu-individu lainnya, dalam suatu wadah atau tempat yang disebut dengan publik. Gugurnya teori khalayak terdiri dari teori khalayak aktif dan teori khalayak pasif,  gugurnya teori khalayak pasif dan asumsi media perkasa, munculah asumsi bahwa khalayak aktif dan sangat berdaya dalam setiap proses komunikasi politik. Bahkan khalayak memiliki daya tangkap dan daya serap terhdap semua rangsangan yang menyentuhnya. Dalam hal ini akan dijelaskan khalayak aktif dan khalayak pasif.

Khalayak aktif versus khalayak pasif 
Dalam pandangan teori komunikasi massa khalayak pasif dipengaruhi oleh arus langsung dari media, sedangkan pandangan khalayak aktif menyatakan bahwa khalayak memiliki keputusan aktif tentang bagaimana mengunakan media massa. Selama ini yang terjadi dalam studi komunikasi massa, teori masyarakat massa lebih memiliki kecenderungan untuk menggunakan konsep teri khalayak pasif. Meskipun tidak semua konsep teori khalayak pasif dapat dikatakan sebagai teori masyarakat massa. Demikian juga sebagian besar teori komunitas yang berkembang dalam studi komunikasi masaa lebih cenderung mengunakan konsep teori aktif.
Kita bisa melihat tipologi khalayak pasifdan khalayak aktif ini dari konsumsi media cetak masyarakat disekitar kita. Media cetak kriminal, seperti pos kota dan lampu merah di jakarta,meteor di jawa tengah, koran merapi di yogyakarta dan memorandum dijawa timur sangat populer di kalangan menengah ke bawah. Berbagai harian ini dapat dengan mudah dijumpai di lapak-lapak koran yang bersebaran dipingir jalan dengan konsumen yang didominasi kalangan menengah ke bawah. Mereka mengkonsumsi media massa dengan tujuan tertentu secara selektif tidak secara menyeluruh. Misalnya mereka yang aktif dalam kegiatan perekonomian tentu akan memilih tentang bisnis indonesia dibanding media yang lain yang memuat tentang kriminal atau bencana, alasan mereka memilih media yang mereka konsumsi karena kehidupan sehari- harinya mereka melakukan kegiatan ekonomi seperti berdagang atau memilih usaha yang lainnya yang berhubungan langsung dengan kehidupanya. Masyarakat mempunyai hak untuk memili media komunikasi yang mereka perlukan,karena kemampuan untuk menyeleksi informasi terdapat pada khalayak menurut perbedaan individu atau kebutuhanya. Perbedaan individu bisa membedakan dilihat dari karakternya masing-masing kalau yang membutuhkan media massa anak-anak jelas yang dicari adalah media massa yang memuat kartun-kartun atau animasi yang mereka sukai. Dan kebanyakan anak-anak perempuan pasti memilih komunikasi massa yang memuat tentang berita selebritis sedangkan anak laki-laki cenderung memilih komunikasi yang memuat berita tentang sepak bola. Disini dapat dibedakan sosial budaya dilihat dari:
1)      Pendidikan
2)      Ekonomi
3)      Etnis
4)      Agama
5)      Dan kedudukan dalam masyarakat
Khalayak yang selektif pasti memilih dengan kebutuhanya masing-masing.

Dalam Teori Khalayak Kepala Batu Terdapat Berbagai Pendapat
     Dalam  hal ini para pakar ilmu komunikasi kemudian mengakui adanya khalayak aktif dan pasif,  termasuk Wilbrur Schramm dan Roberts yang mengoreksi toeri mereka dan menerima ada teori baru yakni teori khalayak kepala batu ( the obstinate audience theory). Disini juga teori khalayak kepala batu dikembangkan oleh Raymond Bauer, bahkan sudah diperkenalkan oleh I.A. Richards tahun 1936. Robert Bauer mengkritik otert bahwa khalayak sebagai robot yang pasif. Teori khalayak mengeser fokus penelitian dari komunikator kepada komunikan atau khalayak. Mereka mengkaji faktor-faktor yang membuat individu itu mau menerima pesan komunikasi. Maka lahir teori guna dan kepuasan, yang dikembangkan oleh Elihu Katz, Jat C Blumer dan Michael Gurevitch (1974). Teori khalayak kepala batu dan teori guna dan kepuasan dimasukan kedalam kelompok teori dari perspekrif atau paradigma psikologis dari komunikasi politik.

Komentar